Metode Ummi hadir sebagai sistem pembelajaran Al-Qur’an yang menggabungkan metode yang bermutu, guru yang bermutu, dan sistem yang bermutu untuk menghadirkan pembelajaran Al-Qur’an yang mudah, menyenangkan, menyentuh hati, dan terjaga kualitasnya.
Kata Ummi berasal dari bahasa Arab ummun yang bermakna ibuku dengan penambahan ya mutakallim. Pemilihan nama Ummi juga untuk menghormati dan mengingat jasa ibu. Tiada orang yang paling berjasa pada kita semua kecuali orang tua kita, terutama ibu.
Ibulah yang mengajarkan banyak hal pada kita. Orang yang sukses mengajarkan bahasa di dunia ini adalah ibu. Karena itu, pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran Al-Qur’an Metode Ummi adalah pendekatan bahasa ibu.
Pendekatan ini menghadirkan proses belajar yang langsung, berulang, penuh kasih sayang, dan dekat dengan hati peserta didik.
Metode Ummi menggunakan pendekatan bahasa ibu yang sederhana, alami, dan menyentuh hati.
Baca langsung tanpa dieja atau diurai terlalu banyak. Dengan kata lain, learning by doing, belajar dengan melakukan secara langsung.
Bacaan Al-Qur’an akan semakin terlihat keindahan, kekuatan, dan kemudahannya ketika dibaca dan dilatih secara berulang-ulang.
Kekuatan cinta, kasih sayang yang tulus, dan kesabaran seorang guru menjadi kunci agar pembelajaran Al-Qur’an dapat menyentuh hati siswa.
Kekuatan Metode Ummi tidak hanya pada buku ajar, tetapi pada perpaduan antara metode, guru, dan sistem yang sama-sama berorientasi pada mutu.
Buku Metode Ummi disusun secara sistematis sesuai psikologi dan tahapan orang belajar Al-Qur’an, serta ditashih oleh ahli Al-Qur’an yang bersanad.
Guru Metode Ummi dibina agar memiliki bacaan yang tartil, menguasai tajwid dan ghorib, memahami metodologi, serta berkomitmen pada mutu.
Metode Ummi ditopang oleh 10 Pilar Sistem Mutu yang saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan dalam implementasinya.
Sistem yang kokoh dalam Metode Ummi dikenal dengan 10 Pilar Sistem Mutu. Untuk mencapai hasil yang berkualitas, semua pengguna Metode Ummi dipastikan menerapkan 10 Pilar Sistem Mutu Ummi.
Kesediaan, dukungan, dan perhatian dari pimpinan lembaga atau pengelola terhadap pembelajaran Al-Qur’an.
Semua guru sudah lulus tashih dan mengikuti pelatihan metodologi serta manajemen pengelolaan pembelajaran Al-Qur’an Metode Ummi.
Waktu yang dibutuhkan minimal 4–5 kali seminggu, setiap pertemuan 60–70 menit, dan semakin sempurna jika ada latihan mandiri.
Rasio ideal dalam belajar membaca Al-Qur’an adalah satu guru mengajar 10 siswa atau maksimal 15 siswa.
Koordinator Al-Qur’an sangat menentukan keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an di lembaga dan menjadi pilar kunci mutu.
Ada target yang jelas dan terukur dari ketercapaian tiap tahap sehingga mudah dievaluasi ketuntasannya.
Tahapan pembelajaran disusun sesuai karakteristik peserta didik, bidang yang diajarkan, serta problem kemampuan membaca Al-Qur’an.
Ketuntasan yang diharapkan adalah 90%–100%. Siswa melanjutkan jilid berikutnya setelah jilid sebelumnya benar-benar baik dan lancar.
Kontrol mutu dilakukan secara internal oleh lembaga dan secara eksternal oleh Ummi Daerah dan/atau Ummi Foundation Pusat.
Evaluasi detail setiap siswa dilakukan secara periodik, baik harian, mingguan, bulanan, kenaikan jilid, maupun ujian akhir atau munaqasyah.
Alhamdulillah, terkait dengan sanad atau isnad dalam Al-Qur'an, yaitu merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan untuk menjaga kemurnian agama Islam ini. Karena itulah Abdullah bin Al Mubarok mengatakan:
“Sesungguhnya sanad/isnad atau menyandarkan keilmuan Al-Qur'an kepada gurunya dan lanjut kepada gurunya hingga Rasulillah SAW merupakan bagian utama dan pokok dalam agama ini.”
Beliau juga mengambil kesimpulan:
“Sekiranya tidak ada isnad, sungguh orang itu akan berkata semaunya apa yang dia yang ingin katakan”.
Inilah bukti nyata bahwa Al-Qur'an merupakan kalamullah yang terjaga sejak diturunkan, ila yaumina hazda hingga yaumil qiyamah. Hal itu disebabkan karena umat ini adalah umat yang hatinya digerakkan oleh Allah SWT dalam rangka mencintai guru sampai kepada Rasulillah Saw.
Adapun dasar dalil yang kuat dalam Al-Qur'an, tentang pentingnya sanad atau isnad adalah sebagaimana firman Allah dalam Al Qiyamah ayat 18:
“Apabila kami bacakan Al-Qur’an ... .” Di penggalan ayat ini, guru pertama yang membacakan Al-Qur'an kepada murid adalah Allah, melalui Malaikat Jibril. Dan murid pertama yang menerima Al-Qur'an adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Fattabi’ qur’aanah (maka ikutilah bacaannya). Inilah yang membedakan Al-Qur'an sebagai kalamullah dengan kitab – kitab sebelumnya, di mana kitab - kitab sebelum Al-Qur'an itu tidak terjaga keotentikannya. Hal ini disebabkan karena umat-umat terdahulu tidak tergerak hati mereka untuk menghafalkan kitabullah.
Inilah hikmah yang besar diturunkannya Al-Qur'an kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga kita saat ini, adalah ketika kita mau menjaga eksistensi dari isnad atau sanad itu sendiri.
Alhamdulillah, Ummi Foundation dengan para trainer dan guru-gurunya amat sangat memperhatikan sanad Al-Qur'an yang tentunya mendapatkan dukungan penuh dari Direktur Ummi Foundation, yaitu Ustadz Masruri Hafidzahullah. Perlu diketahui, bahwa sanad yang kita dapatkan dari sanad Al-Qur'an ini telah banyak tersebar di Indonesia ataupun di Arab pada umumnya, bahkan di seluruh dunia, dimana pertama saya mengambil sanad Al-Qur'an yaitu dari KH. Yahdi Matlab Mojogeneng Jatirejo yang sambungan sanadnya itu ke Kiai Dahlan Kholil Rejoso Peterongan Jombang. Yang tersebar hampir di semua wilayah Jawa Timur ini sanadnya kembali kepada beliau.
Kemudian setelah itu, kami mengambil sanad ke Syiria, yaitu kepada Syeikh Muhammad Toha Sukkar. Beliau adalah Syaikhul Qurro' Addimasyqi yang amat sangat terkenal akan ketelitian dan kehati - hatian beliau dalam menyampaikan amanah sanad untuk disampaikan kepada siapapun yang mengaji kepada beliau.
Inilah kebanggaan kita semuanya terkait dengan sanad. Dengan sanad yang kita miliki ini (baik riwayat Hafsh maupun Qiroat ‘Asyroh), semoga Allah SWT mencatat kita menjadi bagian mata rantai yang tidak bisa terpisahkan hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Semoga antara kita dan yang bersanad sampai kepada Rasulullah dijadikan oleh Allah SWT sebagai Hablullah al Matin (tali yang menghubungkan antara kita dengan Allah SWT). Dialah Allah yang mengangkat dirinya sebagai Dzat pengajar Al-Qur'an pertama, sebagaimana firman Allah:
Dr. KH. Mudawi Ma'arif, Lc, MHI Al-Hafidz
Pembina Al-Qur'an Ummi Foundation
Ummi Palembang siap mendampingi lembaga pendidikan, sekolah, TPQ, rumah tahfidz, dan pesantren dalam menerapkan pembelajaran Al-Qur’an yang lebih terarah, bermutu, dan berbasis sistem.